Gubernur Sahbirin Mau Digugat karena Banjir Terparah, Walhi-Jatam Sepakat Class Action Data Lengkap Korban Longsor Mantewe Tanah Bumbu, Dari Amuntai hingga Kapuas Banjir Kalsel Berbuntut Panjang, Lawyer Banua Ancam Gugat Paman Birin Banjir Kalsel, Warga Kompleks Elite Nyinyir Rumah Miliaran “Calap Jua” Berakhir Hari Ini, Pembatasan Banjarmasin Ambyar Diterjang Banjir

Mengenang Spirit Kemanusiaan Gus Dur

- Apahabar.com Sabtu, 22 Desember 2018 - 22:28 WIB

Mengenang Spirit Kemanusiaan Gus Dur

Gusdur mengubah nama Irian Jaya menjadi Papua. Ia paham bagaimana penderitaan masyarakat Timor Timur, menaikkan harkat martabat etnis Tionghoa, hingga meminta maaf kepada korban pembantaian 1965—hal-hal yang, mungkin, sulit untuk dilakukan Presiden lain.Foto-detiknews

HAUL Gus Dur kesembilan diikuti oleh para pejabat negara hingga rakyat biasa. Di mata mereka sosok Gus Dur punya cerita tersendiri.

Zainuddin, 55 tahun, malam itu terbenam dalam doa yang ia ucapkan dengan khusyuk. Kedua telapak tangannya dibuka seperti menadah sesuatu dari atas. Ia mengikuti lantunan tahlil dan istighotsah yang dipimpin oleh KH. Thobary Syadzili.

Perawakannya sederhana: kemeja betik coklat yang terlihat sedikit kotor, celana panjang sampai di atas mata kaki, mengenakan sendal jepit, dan membawa kantong kresek berisi sesuatu yang ia sempilkan di ketiak sembari berdoa.

Tubuhnya bersandar di kiri badan mobil Avanza berwarna putih. Zainuddin berada di parkiran mobil yang sekaligus menjadi tempat pasar malam kecil dan layar tancap menyaksikan acara Haul Gus Dur ke-9, di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Zainuddin adalah satu dari sekian ratus orang yang tak bisa masuk ke arena pelataran rumah almarhum Gus Dur yang sudah terlanjur pepak oleh manusia.

Orang-orang itu rela berkumpul dalam sesak demi memperingati acara Haul Gus Dur yang sudah diselenggarakan sembilan kali.

Haul pada Jumat (21/12/2018) ini mengambil tema “Yang Lebih dari Politik Adalah Kemanusiaan”. Tema ini sengaja dipilih untuk menyebarkan pesan-pesan humanis dan manusiawi kepada Pemerintah, negara, politisi, dan seluruh masyarakat.

Baca Juga: Ulama Al Azhar Mesir Kunjungi PBNU

Beberapa tokoh publik yang ada di dalam poster Haul Gus Dur kali ini awalnya KH. Maemun Zubair, Habib Abu Bakar Al-Attas, Mahfud MD, Ebiet G. Ade, KH. Dzawawi Imron, Tuty Herawati, dan Aristides Katoppo—namun belakangan yang hadir lebih banyak dari itu.

Namun, di antara orang-orang besar itu Zainuddin tak mau kalah. Pria asal Jombang ini dari rumahnya di daerah Pasar Senen menuju Ciganjur menggunakan KRL.

Tepat pukul 19.00 WIB ia baru tiba di Ciganjur. Waktu itu gerbang menuju pelataran sudah ditutup karena padat manusia. Hanya ketika para pembesar datang saja gerbang itu dibuka. Tentu, Zainuddin bukan salah satunya.

Ia akhirnya memilih menyaksikan suasana haul lewat layar tancap yang ada di parkiran mobil sebelah kiri gerbang menuju pelataran. Gus Dur punya tempat sendiri di hati Zainuddin.

Ketika pulang kampung ke Jombang, Jawa Timur, ia menjadi salah satu jemaah rutin di Pondok Pesantren Mambaul Maarif (PPMM) Denanyar—pondok di mana Gus Dur dilahirkan. Ia juga selalu berusaha meluangkan waktu menziarahi makam Gus Dur.

“Lebaran kemarin, saya libur seminggu. Tiga hari sebelum pulang ke Jakarta saya sempatkan ke makam. Biar ngalap barokah,” kata pegawai di kantin RSPAD Gatot Subroto ini.

Sepanjang hidupnya Gus Dur dikenal sebagai kyai, esais, kritikus, politikus, aktivis gerakan sosial, dan pembela HAM.

Konsistensinya membela kelompok minoritas membuat Gus Dur mendapat julukan “bapak-nya orang-orang Tionghoa dan Papua”.

Afiruz Zaki, 27 tahun, juga tak mau melewatkan acara Haul Gus Dur. Seperti halnya Zainuddin, Zaki hanya bisa mengikuti acara haul dari luar pelataran rumah almarhum Gus Dur. Baginya hal ini menjadi cerita menarik dan tantangan tersendiri.

“Kalau kita lancar-lancar saja bisa akses masuk ke dalam, itu lebih enak, tapi tidak ada cerita uniknya. Lurus-lurus saja. Seperti jalan tol, enggak ada hambatan.

Maka dari itu perlu ada cerita, dateng ke Haul Gus Dur tapi di sana enggak dapet tempat,” kata Zaki.

Satu pesan Gus Dur yang Zaki pegang hingga sekarang adalah menjunjung kesederhanaan sebagai seorang santri. “Apa adanya, misal cuma dikasih space satu kali satu meter, atau 30 centi kali satu meter, ya udah berdiri, nikmati saja. Sebagai santri juga, kejar nilai-nilai ngalap barokah,” katanya.

Editor: aji - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Habar

Sepeninggal Guru Zuhdi, Pengurus Masjid Jami Menimbang Dua Ulama Ini Jadi Pengganti
Sejumlah Larangan Posko Induk Saat Haul ke 15 Guru Sekumpul

Habar

Sejumlah Larangan Posko Induk Saat Haul ke 15 Guru Sekumpul
apahabar.com

Habar

Imbas Corona, Haul Ke-214 Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Ditiadakan
apahabar.com

Habar

Jelang Haul ke 15 Guru Sekumpul, Lapangan Murjani Disulap Jadi Tempat Parkir dan Salat

Habar

Masjidil Haram Ditabrak Mobil, Keamanan Ditingkatkan
apahabar.com

Habar

Saudi Batasi Usia Jemaah, Komnas Haji dan Umrah Sarankan Dua Opsi Keberangkatan
apahabar.com

Religi

Jangan Salah Maknai Minal Aidin Wal Faizin, Begini Ucapan yang Benar
Haul Guru Sekumpul ke 15; Seluruh Karyawan Pasar Sekumpul Disiapkan Layani Jemaah

Habar

Haul Guru Sekumpul ke 15; Seluruh Karyawan Pasar Sekumpul Disiapkan Layani Jemaah
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com