Sudah Ditemukan, Jasad Korban Longsor di Batu Bini HSS Dievakuasi Besok Banjir di Haruyan HST Berangsur-Angsur Surut, BPBD Imbau Warga Tetap Siaga Lebaran di Lapas Balikpapan, Antre Video Call Lepas Rindu Kasus Covid di Balikpapan Melandai, Hari Ini Hanya Bertambah 5 Orang Banjir di Satui Tanbu, Ratusan Jiwa Mengungsi

“Parukunan Jamaluddin” Ternyata Ditulis Ulama Perempuan Berdarah Banjar-Bugis

- Apahabar.com Kamis, 27 Desember 2018 - 20:00 WIB

“Parukunan Jamaluddin” Ternyata Ditulis Ulama Perempuan Berdarah Banjar-Bugis

Cover Kitab Parukunan. Foto-abusyahmin.blogspot.com

apahabar.com, BANJARMASIN – Kitab “Parukunan Melayu” atau yang juga dikenal dengan Kitab “Parukunan Jamaluddin” ternyata ditulis oleh ulama dari kalangan perempuan. Nama beliau adalah Syekhah Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis.

Kitab Parukunan merupakan kitab populer dalam kehidupan masyarakat Melayu. Bagi masyarakat Banjar, Kitab Perukunan ini tidak hanya dipelajari, akan tetapi juga menjadi rujukan utama dalam melaksanakan ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam bahasa Banjar, “parukunan” bermakna uraian dasar tentang perkara-perkara yang diwajibkan oleh agama yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, mencakup rukun Islam (fiqih), rukun iman (tauhid), dan rukun ihsan (tasawuf).

Salah satu kitab perukunan yang terkenal adalah “Parukunan Melayu” yang juga dikenal dengan “Parukunan Jamaluddin”. Kitab ini pertama kali diterbitkan oleh Mathba‘ah al Miriyah al Kainah, Makkah, pada tahun 1315 H/1897 M. Kemudian dicetak ulang di berbagai negara, seperti Singapura (1318 H), India (Bombay), Thailand, Indonesia, dan Malaysia.

Baca Juga: Kapal Datu Kelampayan Hampir Tenggelam, Ternyata Jin Ini Pelakunya

Meski tampak sederhana, kitab ini juga dipelajari kaum muslimin di Malaysia, Philipina, Vietnam, Kamboja, dan Myammar.

Kitab Parukunan tersebut, menurut peneliti asal Belanda, Prof Martin Van Bruinessen dalam tulisannya ‘Kitab kuning dan Perempuan, Perempuan dan Kitab Kuning’; “Pada umumnya tutur lisan masyarakat Banjar menyatakan bahwa kitab ‘Perukunan Jamaluddin’ ini merupakan karya Syekhah Fatimah, cucu Syekh Arsyad Al Banjari dan anak saudara perempuan Syekh Jamaluddin sendiri.”

Lantas mengapa kitab parukunan itu diatas-namakan Jamaluddin? Menurut Prof Martin, identitas pengarang sengaja disembunyikan karena anggapan pada masa itu, menulis kitab adalah “pekerjaan” laki-laki.

Lebih jauh, demikian sambung Guru Besar Studi Islam dari Belanda ini, kalau sejarah digali, tidak mustahil kita akan menemui perempuan lain yang menguasai ilmu-ilmu agama dan telah menulis kitab, namun sumbangan mereka ternyata diingkari dan diboikot.

Baca Juga: Pemimpin Pemberontak: Aku Menyerah dengan Tuan Guru Zainal Ilmi

Sumber: abusyahmin.blogspot.com
Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Khadam Kubah Habib Luar Batang Heran, Ada Sosok Misterius Sedekahkan Uang Rp50 Juta untuk Taksi di Momen Haul Sekumpul

Habar

Pengurus Kubah Habib Luar Batang Heran, Ada Sosok Misterius Sedekahkan Rp50 Juta di Momen Haul Sekumpul
apahabar.com

Hikmah

Rasulullah Meminta Hujan yang Tak Berujung Petaka
apahabar.com

Religi

Menolak Ajakan Istri Berhubungan, Apakah Suami Berdosa?
apahabar.com

Religi

Jemaah Islam Aboge dari 5 Kecamatan di Probolinggo Lebaran Hari Ini
apahabar.com

Habar

Pendaftaran Haji Dibuka Online, Syaratnya Diperketat
apahabar.com

Religi

Susuri Jalan Tasawuf Tak Biasa, Guru Seman Beri Makan Semut ‘Wadai Kelemben’
apahabar.com

Religi

Ketua MUI Tapin: Jangan Lupakan Esensi Idul Fitri
apahabar.com

Habar

Alasan Guru As’ad Mengundurkan Diri dari Majelis Masjid Sungai Jingah Banjarmasin
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com