Update Pemakaman Istri Guru Ijai: Sekumpul Lengang, Polisi Berjaga di Puluhan Titik Banjarmasin PPKM Berjilid-jilid: Prokes Malah Jeblok, Kematian Pecah Rekor! Ditegur Saat Minum Miras, Dua Pemuda Banjar Bacok Pria di Banjarmasin Timur Hoaks Jenazah Covid-19 di Banjarbaru Diburu Polisi, Kadinkes Doakan Pelaku Insyaf “Kalsel Lagi Sakit”, Aktivis Lingkungan Beri Catatan Kritis ke BirinMU

Muadzin di Zaman Rasulullah SAW Ternyata Bukan Hanya Bilal

- Apahabar.com     Selasa, 9 Juni 2020 - 10:39 WITA

Muadzin di Zaman Rasulullah SAW Ternyata Bukan Hanya Bilal

Ilustrasi. Foto-net

apahabar.com, JAKARTA – Bilal bin Rabah RA dikenal sebagai muadzin atau pengumandang adzan di zaman Rasulullah SAW. Namun ternyata, dia bukan satu-satunya, ada nama lain yang berperan sama.

Syariat adzan datang setelah perintah shalat. Shalat disyariatkan di Mekkah, sedangkan adzan disyariatkan di Madinah. Artinya, ada masa yang dilalui kaum muslimin, masuk waktu shalat tanpa mengumandangkan adzan.

Adzan disyariatkan pada tahun pertama hijrah Rasulullah. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma mengatakan,

“Dulu, kaum muslimin saat datang ke Madinah, mereka berkumpul. Mereka memperkirakan waktu shalat tanpa ada yang menyeru. Hingga suatu hari, mereka berbincang-bincang tentang hal itu. Ada yang mengatakan, ‘Gunakan saja lonceng seperti lonceng Nashara’. Dan yang lain menyatakan ‘Gunakan saja terompet seperti terompet Yahudi’. Umar berkata, ‘Tidakkah kalian mengangkat seseorang untuk menyeru shalat?’ Lalu Rasulullah Saw bersabda, ‘Wahai, Bilal. Berdirilah dan serulah untuk shalat’.”

Dari hadits ini, kita bisa mengetahui bahwa Bilal adalah muadzin Rasulullah SAW, namun di zaman itu Islam sudah memiliki tiga buah masjid, yakni Masjid al-Haram, Masjid an-Nabawi, dan Masjid Quba.
Letaknya berjauhan sehingga tidak mungkin hanya Bilal yang menjadi muadzin Rasulullah saw, siapa saja muadzin-muadzin di zaman Rasulullah?

Bilal bin Rabah

Bilal bin Rabah merupakan orang yang pertama-tama memeluk Islam. Ia merasakan siksaan Quraisy di awal datangnya agama suci ini. Ia menjadi muadzin Rasulullah SAW sepanjang hidup Nabi. Dalam keadaan safar maupun mukim. Ada yang menyatakan ia sempat beberapa saat menjadi muadzin di masa Abu Bakar.

Dan tentu saja pernah satu kali mengumandangkan adzan di zaman Umar. Karena para sahabat rindu dengan adzannya. Dan ingin mengingat Rasulullah SAW Tentu banyak keutamaan Bilal. Banyak pula ayat-ayat Alqur’an yang turun, dan Bilal menjadi bagian dari kandungan ayat tersebut.

Ibnu Ummi Maktum

Namanya adalah Amr bin Qays bin Zaidah bin al-Asham. Ia memeluk Islam di Mekkah. Walaupun buta, tapi Amr termasuk orang yang pertama menyambut seruan Nabi SAW hijrah ke Madinah.

Diriwayatkan dari jalan Ibnu Ishaq dari al-Barra, ia berkata, “Yang pertama datang kepada kami adalah Mush’ab bin Umair. Kemudian datang Ibnu Ummi Maktum. Rasulullah mengangkatnya sebagai pemimpin Madinah apabila pergi berperang.

Az-Zubair bin Bakar mengatakan, “Ibnu Ummi Maktum pergi menuju Perang Qadisiyah. Di sanalah ia syahid. Saat itu ia memegang bendera.” Ibnu Ummi Maktum sama seperti Bilal, muadzin Rasulullah SAW di Madinah.
Abu Mahdzurah

Namanya adalah Aus bin Mughirah al-Jumahi. Rasulullah SAW memerintahkannya untuk mengumandangkan adzan di Mekkah sekembalinya beliau dari Hunain.

Ketika Mekkah berhasil ditaklukkan kaum muslimin, Rasulullah SAW memerintahkan Bilal mengumandangkan adzan dari atas Ka’bah. Sebagian pemuda Quraisy, yang masih belum lapang dada menerima Islam, menirukan suara Bilal. Mereka marah dan bermaksud mengejeknya. Sampai salah seorang pemuda yang bernama Abu Mahdzurah al-Jumahi pun meniru-niru adzan Bilal.

Abu Mahdzurah, pemuda 16 tahun, termasuk orang Quraisy yang paling merdu suaranya. Saat ia mengangkat suara mengumandangkan adzan dengan maksud ejekan, Rasulullah SAW mendengarnya.

Nabi memanggilnya dan mendudukkannya di hadapan beliau. Abu Mahdzurah menyangka inilah akhir riwayat hidupnya karena ulahnya itu. Tapi Rasulullah SAW malah mengusap dada dan ubun-ubun pemuda itu dengan tangan beliau yang mulia. Abu Mahdzurah mengatakan, “Demi Allah, hatiku terasa dipenuhi keimanan dan keyakinan. Dan aku meyakini bahwa ia adalah utusan Allah.”

Setelah Abu Mahdzurah beriman, Rasulullah SAW mengajarinya adzan. Jadilah ia orang pertama yang mengumandakan adzan setelah Rasulullah meninggalkan Mekkah menuju Madinah. Ia terus menjadi muadzin di Masjid al-Haram hingga akhir hayatnya. Kemudian dilanjutkan oleh keturunan-keturunannya hingga waktu yang lama. Ada yang mengatakan hingga masa Imam asy-Syafi’i.

sumber: Republika
Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Habar

Salat Subuh Pertama Pasca Ditutupnya Masjid Nabawi, Terapkan Physical Distancing
apahabar,com

Religi

Jelang Haul Abah Guru Sekumpul, Panitia Ungkap Hal yang Dilarang
apahabar.com

Habar

Sisi Lain Muammar Gaddafi, Banyak Model yang Masuk Islam Karenanya
apahabar.com

Habar

Guru Khalil Tegaskan Arah NU Banjar di Politik Praktis
Pendeta Nasrani

Religi

Pendeta Nasrani Melihat Ada yang berbeda dari Sosok Nabi SAW Ketika Kecil
apahabar.com

Habar

Polisi Bagikan Nasi Gratis untuk Jemaah Haul KH Anang Sya’rani Arif ke 51
apahabar.com

Hikmah

Senyum Meningkatkan Kebahagiaan
apahabar.com

Habar

Digadang-gadang Gantikan Almarhum Guru Zuhdi, Guru As’ad Buka Suara
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com