Gubernur Sahbirin Mau Digugat karena Banjir Terparah, Walhi-Jatam Sepakat Class Action Data Lengkap Korban Longsor Mantewe Tanah Bumbu, Dari Amuntai hingga Kapuas Banjir Kalsel Berbuntut Panjang, Lawyer Banua Ancam Gugat Paman Birin Banjir Kalsel, Warga Kompleks Elite Nyinyir Rumah Miliaran “Calap Jua” Berakhir Hari Ini, Pembatasan Banjarmasin Ambyar Diterjang Banjir

Adab Bertamu dan Menjamu Tamu Ala Rasulullah

- Apahabar.com Senin, 31 Agustus 2020 - 07:45 WIB

Adab Bertamu dan Menjamu Tamu Ala Rasulullah

Ilustrasi silaturahmi. Foto-Net

apahabar.com, JAKARTA – Berkunjung ke rumah kerabat untuk bersilaturahmi adalah hal yang wajib dilakukan bagi setiap muslim. Selain mempererat tali silaturahmi, hal itu juga dapat mendatangkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun sebelum bertamu, ada hak dan adab yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi penyimpangan perilaku di dalamnya.

Rumah adalah hijab bagi penghuninya, maka saat hendak bertamu haruslah meminta izin terlebih dahulu. Adab yaitu perilaku seseorang dalam menghadapi sesuatu sedangkan hak yaitu apa yang seharusnya di dapatkan dari orang lain. Maka perlu diperhatikan adab dan hak saat bertamu supaya tidak terjadi kesalahpahaman dan menjunjung tinggi kesopanan.
Pimpinan Majelis Assalafy, Jakarta, Habib Hud bin Muhammad Bagir Al-Atthos menjelaskan adab bertamu yakni sebagai berikut:

1. Minta izin sebelum kunjungi rumahnya

Adab bertamu yang pertama yaitu sebelum mengunjungi rumahnya, perlu meminta izin terlebih dahulu apakah tuan rumah saat itu membuka pintunya atau sedang menutup karena ada keperluan. Hal ini perlu diperhatikan untuk memastikan agar kedatangannya tidak sia-sia. Allah Ta’ala berfirman dalam Alquran Surah An-Nur ayat 27 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat,” (QS. An-Nur: 27).

2. Jangan mengintip

Janganlah mengintip apabila tuan rumah belum membuka pintunya. “Tidak seorang laki-laki membuka daripada pintu yang belum diizinkan, maka matanya memandang ke dalam rumah. Kemudian dia melihat aurat orang yang punya rumah, maka ia terkena hukuman,” ucap Habib Hud.

Dari Sahal bin Saad As-Sa’idi radhiallahu anhu, ia mengabarkan bahwasanya seorang laki laki mengintip pada lubang pintu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Ketika itu, beliau tengah membawa sebuah sisir yang biasa beliau gunakan untuk menggaruk kepalanya. Ketika melihatnya, Beliau bersabda: “Seandainya aku tahu engkau tengah mengintipku, niscaya telah aku lukai kedua matamu dengan sisir ini,”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya permintaan izin itu diperintahkan untuk menjaga pandangan mata,”.

3. Lekas kembali jika tuan rumah tidak menjawab salam

Apabila telah mengucapkan salam sebanyak tiga kali dan tidak ada jawaban dari tuan rumah maka kembalilah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Alquran Surah An-Nur ayat 28: “Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu “Kembali (saja)lah,” maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS. An-Nur: 28).

4. Bertamu maksimal 3 hari

Jangan berlama-lama dalam bertamu. Sebab, tuan rumah akan merasa terbebani. Jika diperbolehkan menginap, hendaknya jangan melampaui batas kemampuan tuan rumah. Rasulullah mengajarkan bahwa waktu bertamu hendaknya tiga hari saja.
Rasulullah bersabda: “Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal di tempat saudaranya yang bisa menyusahkan saudaranya yang punya rumah,” Para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, bagaimana menyusahkannya?’ Rasulullah menjawab: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya,” (HR. Muslim).

5. Perhatikan batasan waktu

Hendaklah tamu memerhatikan batasan waktu saat bertamu. Karena ada beberapa waktu yang dikatakan sebagai aurat bagi tuan rumah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskannya dalam Alquran Surah An-Nur ayat 58 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh diantara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari, dan sesudah sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (QS. An-Nur: 58).

6. Bawalah hadiah

Hendaklah yang bertamu membawa hadiah. Hal tersebut dapat menimbulkan rasa cinta dan kasih sayang antarkeduanya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Biasakan saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai,” (HR. Bukhari).
Sedangkan hal yang perlu diperhatikan saat menjamu tamu yaitu:

1. Beri jamuan terbaik

Ketika ada yang bertamu, jamulah ia dengan sebaik-baiknya. Berikanlah yang terbaik kepadanya sesuai dengan kemampuan kita. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya,” (HR. Bukhari).

2. Saat tak dilayani dengan baik, wajib menolongnya

Saat tuan rumah tidak menjamu tamunya dengan baik, maka tetangga yang mengenalinya dan tahu wajib menolongnya. “Tidaklah seorang laki-laki bertamu kepada suatu kaum, di pagi hari tidak dilayani dengan makanan dan minuman atau disengsarakan istilahnya, maka wajib bagi seorang muslim untuk menolongnya,” kata Habib Hud.

3. Diperbolehkan mengambil makanan yang ditanamnya

Jika tuan rumah tidak menghormati dan melayani tamunya dengan baik sedang ia merasakan kelaparan, maka diperbolehkan untuk mengambil apa yang tuan rumah miliki.
“Boleh dia mengambil makanan yang cukup untuk dirinya hingga malam hari. Misalnya, ketika sore hari mencabut tanaman untuk keperluan makan pada malam hari maka diperbolehkan karena tuan rumah tidak memberi makan maka ia berhak mengambilnya,” terang Habib Hud.
“Cukup dia mengambil dari hasil tanamannya, hasil makanan dari pohon-pohonnya untuk menutup kelaparan dia di malam harinya,” sambungnya.
Itulah beberapa adab dan hak yang harus diperhatikan saat bertamu dan menerima tamu. Semoga kita dapat istiqamah mengamalkannya demi meraih pahala dan ridha Allah Ta’ala. Aamiin. (Okz)

Editor: Syarif

Editor: Uploader - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Habar

Haji 2020 Masih Tanda Tanya, WHO Beri Masukan ke Arab Saudi
apahabar.com

Habar

Destinasi Wisata Arab Saudi, Artefak Ukiran Batu Kuno di Jubbah
apahabar.com

Religi

Habib Ali Zainal Abidin al Hamid Malaysia Isi Tausiyah Haul KH Anang Sya’rani ke-50
MUI Banjarmasin Punya Kebijakan Sendiri Terkait Salat di Masjid

Habar

MUI Banjarmasin Punya Kebijakan Sendiri Terkait Salat di Masjid
apahabar.com

Habar

Menatap Haji Tahun Depan, Kemenag Janji Tambah Konsumsi
apahabar.com

Habar

Persiapan Polres Banjar untuk Haul Sekumpul ke 15; Turunkan Speed Boat dan Sulap Water Canon Jadi Tempat Wudhu
apahabar.com

Habar

Berikut Fatwa Muhammadiyah Jika Wabah Corona Terjadi Selama Ramadan
Imbas Corona, Imam Khamenei Sarankan Iktikaf Dibatalkan

Habar

Imbas Corona, Imam Khamenei Sarankan Iktikaf Dibatalkan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com