Gubernur Sahbirin Mau Digugat karena Banjir Terparah, Walhi-Jatam Sepakat Class Action Data Lengkap Korban Longsor Mantewe Tanah Bumbu, Dari Amuntai hingga Kapuas Banjir Kalsel Berbuntut Panjang, Lawyer Banua Ancam Gugat Paman Birin Banjir Kalsel, Warga Kompleks Elite Nyinyir Rumah Miliaran “Calap Jua” Berakhir Hari Ini, Pembatasan Banjarmasin Ambyar Diterjang Banjir

Gemar dengan Ilmu, Ulama Ini Masih Sempat Diskusi Menjelang Ajal

- Apahabar.com Selasa, 25 Agustus 2020 - 06:30 WIB

Gemar dengan Ilmu, Ulama Ini Masih Sempat Diskusi Menjelang Ajal

Ilustrasi. Foto-Net

apahabar.com, JAKARTA — Keilmuan menjadi hal yang manis dibicarakan bagi pencintanya, seperti para ulama. Bahkan menjelang akhir hayat, ada sajadi antara mereka yang masih sempat berdiskusi.

Namanya adalah Qadhi. Beliau adalah salah satu murid Abu Hanifah, yang merupakan pembesar ulama Mazhab Hanafi sekaligus penyebar mazhab tersebut.

Beliau adalah orang yang pertama dijuluki Qadi Al-Qudat (hakimnya para hakim) dan menjabat sebagai qadi pada masa pemerintahan Al-Hadi, Al-Mahdi, dan Ar-Rosyid, tiga sultan Dinasti Abbasiyah.

“Beliau dikenal sebagai orang yang sangat menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakan waktu untuk belajar,” kata Khaeron Sirin dalam bukunya “Ketawa Sehat Bareng Para Ahli Fiqih”.

Dikisahkan murid beliau, qadhi Ibrahim bin al-Jarrah Al-Kufi Al-Mishriy, “Saat Abu Yusuf sedang sakit aku menjenguknya, saat aku sampai ternyata beliau sedang tak sadarkan diri, ketika beliau sudah sadar, beliau berkata kepadaku: Hai Ibrahim bagaimana pendapatmu tentang masalah ini?”

Aku berkata, “Anda bertanya, padahal kondisi anda seperti ini”?

“Tidak apa-apa, siapa tahu dari hasil diskusi kita bisa membantu orang yang punya masalah seperti ini,” kata Imam Abu Yusuf.

Imam Abu Yusuf berkata lagi, “Hai Ibrahim, mana yang lebih utama, melempar jumrah (dalam manasik haji) dengan berjalan atau menunggang binatang?”

Aku menjawab “Dengan berjalan.”

“Salah,” kata beliau.

Aku jawab, “Dengan menunggang.”

“Salah,” kata beliau.

Aku bertanya, “Lalu bagaimana yang benar? Semoga Allah meridhai anda?

Beliau berkata, “Jika orang tersebut ingin berhenti dan berdoa, maka lebih afdhal ia berjalan, namun, apabila ia tidak berhenti untuk berdoa maka lebih baik ya naik tunggangan.”

Setelah itu, aku beranjak dari tempat beliau dirawat, saat aku berjalan dan belum sampai pintu rumah, aku mendengar suara jeritan. Lalu aku bergegas mendatanginya, dan ternyata beliau sudah meninggal dunia, semoga Allah merahmati beliau.

Khaeron mengatakan, kisah ini bersumber dari kitab Qimat az-Zaman Indal Ulama hal 28 sampai 29.(Rep)

Editor: Muhammad Bulkini

Editor: aji - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Religi

Kesetaraan Gender dalam Fikih
Masjid di India Fasilitasi Pernikahan Pasutri Hindu

Religi

Masjid di India Fasilitasi Pernikahan Pasutri Hindu
apahabar.com

Hikmah

Menguji Anak Gembala, Sayidina Umar Dibuat Meneteskan Air mata
apahabar.com

Kalsel

Kabar Duka, Ulama Sepuh HSS Guru Pahampangan Tutup Usia
apahabar.com

Habar

Populasi Muslim Negara di Afrika Ini Meledak, Diprediksi Salip Indonesia
apahabar.com

Religi

Cara Keluarga Rasulullah Kelola Keuangan dan Pangan
apahabar.com

Hikmah

Kisah Mualaf Rapper Williams, Temukan ‘Rumah’ dalam Islam
apahabar.com

Sirah

Tanggung Jawab Menjaga Lingkungan Hidup dalam Islam
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com