Cuaca Kalsel Hari Ini, 11 Wilayah Waspada Hujan Disertai Petir Respons BirinMu, Eks KPK dan HW Cs Jadi Panglima Gugatan II H2D di MK Duduk Perkara Heboh Piton Patuk Majikan di Q-Mall Banjarbaru Drama #SAVEKPK di Banjarmasin, Supian HK Dicari-cari Mahasiswa Kalsel Kalah Jumlah, Polisi Pastikan Aksi #SaveKPK di Banjarmasin Kondusif

Apakah Nabi Terdahulu Juga Beriman kepada Rasulullah?

- Apahabar.com Sabtu, 12 Desember 2020 - 12:26 WIB

Apakah Nabi Terdahulu Juga Beriman kepada Rasulullah?

Ilustrasi Rasulullah. Foto-U-Report

apahabar.com, JAKARTA – Dalam berbagai sirah Nabi, kerap disebutkan bahwa Allah menciptakan Nabi Muhammad jauh lebih dulu dari penciptaan Nabi Adam AS. Lantas jika demikian, adakah kemungkinan bahwa Nabi-Nabi terdahulu juga dapat beriman kepada Rasulullah SAW?

Rasulullah SAW bersabda: “Kuntu nabiyyan wa aadamu baina ar-ruhi wal-jasadi,”. Yang artinya: “Aku telah (direncanakan Allah) menjadi Nabi sedang ketika itu Adam masih dalam proses (penciptaan) yaitu antara ruh dengan jasad.

Bahkan dalam Alquran Surah Ali Imran ayat 81-82, Allah SWT berfirman: “Wa idz akhadzallahu miistaqa an-nabiyyi lama aataitakum min kitabin wa hikmatin tsumma ja-akum Rasulun mushaddiqun lima ma’akum latu’minunna bihi wa latansurunnahu qala aaqrartum wa akhadztum ala dzaalikum ishri qalu aqrarna qala fasyhaduu wa anaa ma’akum min as-syaahidina. Faman tawalla ba’da dzalika fa-ulaa-ika humul-faasiqun,”.

Yang artinya: “(Ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: sungguh apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman: apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu? Mereka pun menjawab: kami mengakui. Allah berfirman: kalau begitu, saksikanlah (wahai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu. Barang siapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang fasik,”.

Pakar Tafsir asal Indonesia, Prof Quraish Shihab, dalam buku berjudul Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW menjelaskan, ayat tersebut mengisyaratkan bahwa para Nabi yang diutus Allah telah diminta untuk berjanji membenarkan dan beriman kepada Nabi-Nabi yang datang sesudahnya.

Jika demikian, dijelaskan, sejak Nabi pertama telah diambil janji itu dan mereka menyetujuinya, karena itu Nabi Muhammad bersabda: “Law kana Musa hayyan lama wasa’ahu illa ittiba’I,”. Yang artinya: “Seandainya Nabi Musa AS hidup (pada masa Nabi Muhammad SAW), maka ia tidak dapat tidak kecuali mengikutiku,” (HR Imam Ahmad).

Selain itu, Nabi Muhammad juga bersabda mengenai dirinya: “Addabaniy fa ahsana ta’dibiy,”. Yang artinya: “Allah telah mendidikku, sehingga aku terdidik dengan sebaik-baiknya,”. Maka karena Allah lah yang mendidik Nabi Muhammad SAW secara langsung, maka perilaku Nabi pun tersirat pancaran sifat Illahiyah. Meski Nabi bukanlah Tuhan dan tidak boleh disembah.

Nabi diajarkan langsung oleh Allah SWT melalui wahyu-wahyu yang diturunkan kepadanya. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan dalam Alquran Surah Ar-rahman ayat 1-4 berbunyi: “Ar-rahman, allamal-qur’an, khalaqal-insan, allamahul-bayan,”. Yang artinya: “Allah pelimpah kasih, Dia yang mengajarkan Alquran, Dia yang menciptakan manusia, Dia yang mengajarnya berekspresi,”.

Selain itu dalam Surah An-Najm ayat 5, Allah berfirman: “Allamahu syadidul-quwa,”. Yang artinya: “Diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat,”. Karena itu dan selainnya, dijelaskan beliau, maka pernaan ayah beliau tidak terlalu dibutuhkan sehingga ruhnya dijemput malaikat maut setelah selesai tugas pokoknya dalam konteks kelahiran utusan Allah, Nabi Muhammad SAW.

Dilansir Republika, namun demikian, meski ayah Nabi, Abdullah, tidak melihat putranya dengan maya kepala, namun dunia seluruhnya menyaksikan dan mengakui kehebatan putranya itu. Baik yang percaya kepada beliau sebagai Nabi maupun yang tidak percaya. Kehebatan Nabi bahkan diakui oleh para malaikat dan juga kemungkinan Nabi-Nabi terdahulu karena beliau lah penciptaan sempurna Allah SWT.

Editor: M Syarif - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hikmah

Imam Al Ghazali Sebut 7 Anggota Badan yang Harus Dijaga
apahabar.com

Religi

Menjelang Haul Syekh Samman, Berikut Imbauan Ketua Panitia Untuk Jemaah
MUI Banjarmasin Punya Kebijakan Sendiri Terkait Salat di Masjid

Habar

MUI Banjarmasin Punya Kebijakan Sendiri Terkait Salat di Masjid
Haderawi

Habar

Sepeninggal Guru Haderawi, Ini Ustadz yang akan Mengisi Majelis Raudhaturrahmah
apahabar.com

Habar

Beri Kuliah di IAID Martapura, Rektor Al Ahgaff: Islam Harus Unggul
apahabar.com

Hikmah

Ini Alasan Kenapa Sayidina Umar bin Khattab Bisa Tidur Nyenyak di Atas Kerikil
apahabar.com

Religi

Kisah Nabi Idris Menemui Malaikat Pencabut Nyawa
apahabar.com

Ceramah

Gus Baha: Hidup Jangan Dibikin Sulit
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com