Gubernur Sahbirin Mau Digugat karena Banjir Terparah, Walhi-Jatam Sepakat Class Action Data Lengkap Korban Longsor Mantewe Tanah Bumbu, Dari Amuntai hingga Kapuas Banjir Kalsel Berbuntut Panjang, Lawyer Banua Ancam Gugat Paman Birin Banjir Kalsel, Warga Kompleks Elite Nyinyir Rumah Miliaran “Calap Jua” Berakhir Hari Ini, Pembatasan Banjarmasin Ambyar Diterjang Banjir

Apakah Nabi Terdahulu Juga Beriman kepada Rasulullah?

- Apahabar.com Sabtu, 12 Desember 2020 - 12:26 WIB

Apakah Nabi Terdahulu Juga Beriman kepada Rasulullah?

Ilustrasi Rasulullah. Foto-U-Report

apahabar.com, JAKARTA – Dalam berbagai sirah Nabi, kerap disebutkan bahwa Allah menciptakan Nabi Muhammad jauh lebih dulu dari penciptaan Nabi Adam AS. Lantas jika demikian, adakah kemungkinan bahwa Nabi-Nabi terdahulu juga dapat beriman kepada Rasulullah SAW?

Rasulullah SAW bersabda: “Kuntu nabiyyan wa aadamu baina ar-ruhi wal-jasadi,”. Yang artinya: “Aku telah (direncanakan Allah) menjadi Nabi sedang ketika itu Adam masih dalam proses (penciptaan) yaitu antara ruh dengan jasad.

Bahkan dalam Alquran Surah Ali Imran ayat 81-82, Allah SWT berfirman: “Wa idz akhadzallahu miistaqa an-nabiyyi lama aataitakum min kitabin wa hikmatin tsumma ja-akum Rasulun mushaddiqun lima ma’akum latu’minunna bihi wa latansurunnahu qala aaqrartum wa akhadztum ala dzaalikum ishri qalu aqrarna qala fasyhaduu wa anaa ma’akum min as-syaahidina. Faman tawalla ba’da dzalika fa-ulaa-ika humul-faasiqun,”.

Yang artinya: “(Ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: sungguh apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman: apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu? Mereka pun menjawab: kami mengakui. Allah berfirman: kalau begitu, saksikanlah (wahai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu. Barang siapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang fasik,”.

Pakar Tafsir asal Indonesia, Prof Quraish Shihab, dalam buku berjudul Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW menjelaskan, ayat tersebut mengisyaratkan bahwa para Nabi yang diutus Allah telah diminta untuk berjanji membenarkan dan beriman kepada Nabi-Nabi yang datang sesudahnya.

Jika demikian, dijelaskan, sejak Nabi pertama telah diambil janji itu dan mereka menyetujuinya, karena itu Nabi Muhammad bersabda: “Law kana Musa hayyan lama wasa’ahu illa ittiba’I,”. Yang artinya: “Seandainya Nabi Musa AS hidup (pada masa Nabi Muhammad SAW), maka ia tidak dapat tidak kecuali mengikutiku,” (HR Imam Ahmad).

Selain itu, Nabi Muhammad juga bersabda mengenai dirinya: “Addabaniy fa ahsana ta’dibiy,”. Yang artinya: “Allah telah mendidikku, sehingga aku terdidik dengan sebaik-baiknya,”. Maka karena Allah lah yang mendidik Nabi Muhammad SAW secara langsung, maka perilaku Nabi pun tersirat pancaran sifat Illahiyah. Meski Nabi bukanlah Tuhan dan tidak boleh disembah.

Nabi diajarkan langsung oleh Allah SWT melalui wahyu-wahyu yang diturunkan kepadanya. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan dalam Alquran Surah Ar-rahman ayat 1-4 berbunyi: “Ar-rahman, allamal-qur’an, khalaqal-insan, allamahul-bayan,”. Yang artinya: “Allah pelimpah kasih, Dia yang mengajarkan Alquran, Dia yang menciptakan manusia, Dia yang mengajarnya berekspresi,”.

Selain itu dalam Surah An-Najm ayat 5, Allah berfirman: “Allamahu syadidul-quwa,”. Yang artinya: “Diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat,”. Karena itu dan selainnya, dijelaskan beliau, maka pernaan ayah beliau tidak terlalu dibutuhkan sehingga ruhnya dijemput malaikat maut setelah selesai tugas pokoknya dalam konteks kelahiran utusan Allah, Nabi Muhammad SAW.

Dilansir Republika, namun demikian, meski ayah Nabi, Abdullah, tidak melihat putranya dengan maya kepala, namun dunia seluruhnya menyaksikan dan mengakui kehebatan putranya itu. Baik yang percaya kepada beliau sebagai Nabi maupun yang tidak percaya. Kehebatan Nabi bahkan diakui oleh para malaikat dan juga kemungkinan Nabi-Nabi terdahulu karena beliau lah penciptaan sempurna Allah SWT.

Editor: M Syarif - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Habar

Cek Fakta, Majelis Asuhan Guru Syaifuddin Zuhri Dikabarkan Kembali Aktif
apahabar.com

Habar

NU Kalsel Imbau Warga Nahdliyyin Rayakan Malam Nishfu Sya’ban di Rumah
apahabar.com

Religi

Ikuti Jejak Rasulullah, Tidak Bernapas di Gelas Saat Minum
apahabar.com

Religi

Misteri “Tongkat” Soekarno Terkuak, Ternyata Ulama Ini yang Memberinya
apahabar.com

Habar

Ponpes Darussalam Memulai Tahun Ajaran Baru Tepat di Hari Istimewa
apahabar.com

Habar

Peringati Maulid Nabi, Menag: Perbanyak Sholawat
apahabar.com

Hikmah

Apakah Amal yang Ditunjukkan Berarti Riya? Simak Penjelasan Imam Al Ghazali
apahabar.com

Religi

Susuri Jalan Tasawuf Tak Biasa, Guru Seman Beri Makan Semut ‘Wadai Kelemben’
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com